Rabu, 12 Desember 2012

JUAL OBAT EPILEPSI/ KEJANG-KEJANG, HP 081802614516

MENOLONG ORANG YANG KENA SERANGAN EPILEPSI

Menghadapi pasien epilepsi, orang di sekitarnya diharapkan dapat membantu mencegah keparahan pasien dengan melakukan beberapa langkah penanggulangan.
- Miringkan secara perlahan posisi orang tersebut dan letakkan bantal atau sesuatu yang empuk di bawah kepalanya.
- Kendurkan dasi atau kerahnya.
- Jangan pernah memasukkan jari atau sesuatu ke dalam mulut korban. Lidahnya tidak akan tertelan.
- Jangan mengekang gerakan tubuhnya.
- Laporkan kepada keluarganya untuk mendapat pengobatan dokter.
- Saat sadar, penderita tidak ingat apa-apa tentang dirinya yang baru mengalami serangan. Ada kalanya muncul rasa nyeri kepala dan menggantung atau rasa bingung setelah terjadinya serangan epilepsi.

 PENCET IBU JARI ATASI EPILEPSI
Ketika saudara Anda atau pasien dengan epilepsi menunjukkan tanda-tanda kejang, segera pencet ibu jarinya. Mengapa? Memencet ibu jari ternyata dapat mengatasi kekambuhan pada penyandang epilepsi.

“Setelah saya melakukan pembuktian secara ilmiah, terbukti memencet ibu jari dapat mengurangi risiko terjadinya bangkitan epilepsi," ujar  dr.Kurnia Kusumastuti Sp.S, Ketua Kelompok Studi Epilepsi, dalam seminar epilepsi di Jakarta, Kamis (14/6/2012).

Kurnia mengaku bahwa ia pernah meneliti hal tersebut baik pada hewan dan manusia. Hasil menunjukkan pemencetan ibu jari secara berkala dapat mencegah timbulnya korsleting di otak. Ia menerangkan, pada ibu jari banyak terdapat saraf-saraf yang terhubung langsung dengan otak, sehingga ia menganggap cara ini cukup ampuh untuk mengatasi tingginya tenganggan listrik di otak.

Kurnia memaparkan, ketika ibu jari dipencet, maka akan timbul rasa nyeri. Kemudian, nyeri itu akan terasa hingga ke otak dan menimbulkan suatu proses di otak, serta mengurangi penyebab gangguan listrik. Meski begitu, Kurnia mengingatkan, terapi memencet ibu jari bukanlah dimaksudkan untuk menganti obat-obatan, melainkan hanya untuk membantu kinerja obat.

Caranya, cukup dengan memencet ibu jari selama 30 detik, kemudian dilepas, dan dipencet lagi, begitu seterusnya. Menurutnya, ini adalah terapi yang paling mudah dan dapat dilakukan semua orang dimana saja.

“Namun, jangan memencet ibu jari berlebihan, karena hal itu justru akan bisa menimbulkan stres dan pada akhirnya memicu kejang,” ujar Kurnia.

Kurnia juga menegaskan, terapi pencet ibu jari tidak bisa dijadikan sebagai alat penolong ketika terjadi kejang. Karena pada dasarnya, pertolongan pertama tetap harus dengan pemberian obat anti kejang. Sedangkan pencet ibu jari hanya mempercepat berhentinya kejang.

“Bila sedang kejang harus segera diberikan diazepam (obat anti kejang), baik melalui injeksi maupun dubur. Kalau sudah kejang, listrik di otak sangat tinggi. Jadi sebelum terjadi kejang obati dengan Obat Anti Epilepsi (OAE),” tutupnya.

EPILEPSI PADA ANAK BISA DISEMBUHKAN

 Gangguan yang dialami ibu pada masa kehamilan serta proses persalinan yang sulit bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak dan timbulnya epilepsi. Karena itu kejadian epilepsi pada anak-anak lebih tinggi. Namun dengan kepatuhan minum obat dan pola hidup yang sehat epilepsi bisa disembuhkan.

Jenis epilepsi pada bayi dan anak sangat beragam. Menurut dr.Hardiono Pusponegoro, Sp.A, dari divisi saraf anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sebagian besar kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya.  Namun beberapa diantaranya disebabkan karena gangguan otak seperti kelainan bawaan, trauma otak, infeksi, hingga kekurangan oksigen saat persalinan.

Seorang anak bisa disebut menderita epilepsi jika ia mengalami kejang spontan dua kali atau lebih tanpa sebab yang jelas.

"Kejang ini disebabkan oleh aliran listrik berlebihan di otak yang muncul sebagai kejang," paparnya dalam acara media edukasi bertajuk Kenali dan Pahami Epilepsi, Hapus Stigma Negatif di Jakarta (15/12).

Ia menjelaskan, pada dasarnya epilepsi tidak menular dan tidak mengganggu kecerdasan anak. "Bila anak kejang lebih dari 15 menit memang bisa merusak otaknya. Namun biasanya kejang hanya berlangsung tak lebih dari tiga menit," kata ahli tumbuh kembang ini.

Pengobatan epilepsi menurut Hardiono sebaiknya mempertimbangkan aspek efek sampingnya. "Jangan hanya mencari obat yang paling murah, tapi perhatikan efek sampingnya karena ada yang bisa mengganggu konsentrasi dan menyebabkan alergi," katanya.

Pengobatan monoterapi atau memakai satu jenis obat, menurut dia lebih efektif dibanding beberapa jenis obat. "Makin sedikit obatnya, makin bagus hasilnya. Sekitar 70 persen tidak kejang sama sekali," imbuhnya.

Pasien epilepsi memang harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang karena itu diperlukan kepatuhan agar terapinya berhasil.  "Setelah dua tahun tidak kejang lagi, kita akan evaluasi. Obat juga tidak boleh dihentikan seketika namun perlahan-lahan," paparnya.

Penghentian obat secara mendadak, menurut Hardiono bisa berakibat fatal. "Meski sudah tidak kejang lagi tapi belum tentu aktivitas listrik di otaknya sudah normal. Jika obat dihentikan anak bisa kejang-kejang hebat. Ini justru berbahaya," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar